Rabu, 12 Juli 2017

Contoh Penelitian Tindakan Kelas Penjaskes SMP

Contoh Penelitian Tindakan Kelas Penjaskes SMP 

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

 Bagi Anda guru SMP yang mengampu matapelajaran Penjaskes dan hendak menyusun penelitian tindakan kelas (PTK), kali ini kami menyajikan 30 contoh PTK Penjaskes SMP yang akan berguna untuk dijadikan rujukan.
PTK untuk mapel Penjaskes memang dibilang agak unik karena lebih melibatkan unsur kinestetik dan dilakukan lebih banyak di luar ruang.

Sebelum download atau mengunduh, pastikan Anda mempunyai program pembuka berkas pdf atau pdf viewer. Kami yakin Anda pasti sudah mempunyainya.

Contoh PTK Penjaskes SMP  yang kami sajikan berasal dari sumber yang terbuka. Anda sebenarnya dapat mengunduhnya secara langsung dari sumbernya. Akan tetapi, Anda harus berhadapan dengan ratusan judul yang dalam satu halaman tercampur antara PTK Penjaskes SD, SMP, dan SMA. Dengan membaca halaman ini berarti kami telah membantu mengefisienkan waktu Anda dengan cara membuat segmentasi PTK berdasarkan jenjang pendidikan.
Berikut adalah 30 contoh PTK Penjaskes SMP untuk rujukan Anda. Silahkan disimak!

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PASSING BOLABASKET MENGGUNAKAN KARTU TUGAS PADA PEMBELAJARAN PENJASORKES BAGI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN AJARAN 2012/2013 | DOWNLOAD
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PERMAINAN SEPAKBOLA MELALUI PERMAINAN SOCCER BALL BOUNCE PADA SISWA KELAS V III SMP N 13 MAGELANG | DOWNLOAD 
MODEL PEMBELAJARAN PENJASORKES MELALUI PERMAINAN BOLA BASKET RING LINGKARAN GANDA BAGI SISWA KELAS VII SMP N 1 TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 | DOWNLOAD
PENGEMBANGAN SEPAK BOLA MINI DENGAN MENGGUNAKAN PERMAINAN TEAM ON TEAM TERHADAP HASIL BELAJAR SEPAK BOLA BAGISISWA KELAS VIII SMP NEGERI 02 BOJA TAHUN AJARAN 2012/2013 | DOWNLOAD
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TOLAK PELURU GAYA ORTODOKS MELALUI MODIFIKASI ALAT BANTU PELURU KAYU BERWARNA PADA SISWA KELAS VII SMP N 11 MAGELANG TAHUN 2013 | DOWNLOAD


UPAYA MENINGKATKAN MINAT, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA HANG STYLE DENGAN MEDIA BOLA GANTUNG BAGI SISWA KELAS VIII A SMP N 1 RANDUBLATUNG KABUPATEN BLORA TAHUN 2012/2013 | DOWNLOAD
PENGEMBANGAN MODEL PERMAINAN “TEMBAK KALENG” SEBAGAI ALTERNATIF VARIASI PERMAINAN BOLA KECIL DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES BAGI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 PATEBON KABUPATEN KENDAL TAHUN 2012 | DOWNLOAD
MODEL PEMBELAJARAN PERMAINAN SEPAK BOLA GAWANG BERGERAK DALAM PENJASORKES PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 10 SEMARANG TAHUN 2012 / 2013 | DOWNLOAD
UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN LOMPAT TINGGI MENGGUNAKAN METODE BERMAIN DI LINGKUNGAN PANTAI PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 WARUREJA KEBUPATEN TEGAL TAHUN PELAJARAN 2012/2013 | DOWNLOAD
MODEL PENGEMBANGAN PERMAINAN BOLA BASKET DENGAN TIGA RING DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES PADA SISWA KELAS VIII SMP N 1 LEKSONO KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 2012 | DOWNLOAD

Penjas BAB III Atletik Lompat Jauh SD Kenaikan Pangkat

Penjas BAB III Atletik Lompat Jauh SD Kenaikan Pangkat 

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

 

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
1.    Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri .... Kecamatan .... Kabupaten ..... SD Negeri .... Kecamatan .... Kabupaten .... terletak ± 30 km sebelah barat Kota ..... Lokasi SD Negeri .... sangat strategis, karena terletak di jalan utama desa ..... SD Negeri .... terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk sehingga mudah dijangkau oleh para siswanya.
Sarana dan prasarananya sangat mendukung untuk dilakukan penelitian tindakan kelas. Halaman sekolah sangat luas, sehingga sangat mendukung pembelajaran penjasorkes. Perpustakaan telah menyediakan berbagai buku sumber sebagai pendukung dan sumber data penelitian. Sarana olahraga seperti peralatan olahraga, kit atletik, dan lain-lain tersedia cukup lengkap. Lapangan olahraga juga sangat memadai untuk pelaksanaan penelitian tentang lompat jauh gaya jongkok.
2.    Waktu penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama 4 (empat) bulan, yaitu mulai dari bulan Maret …. sampai dengan bulan Juni ….. Kegiatan penelitian ini meliputi persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan. Kegiatan persiapan meliputi observasi, identifikasi masalah, penentuan tindakan, Pengajuan judul, penyusunan proposal, dan Pengajuan ijin penelitian. Kegiatan pelaksanaan meliputi seminar proposal dan pengumpulan data penelitian. Penyusunan laporan meliputi penulisan laporan dan ujian skripsi. Untuk lebih jelasnya, berikut tabel jadwal penelitian tindakan kelas materi pembelajaran lompat jauh gaya jongkok melalui penggunaan alat bantu bok kardus dan gawang aman di SD Negeri ....:

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN (PENJASKES) 
 
Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan yang serba maju, modern dan serba canggih seperti saat ini, pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melalui penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia-manusia berkualitas yang akan mendukung tercapainya sasaran pembangunan nasional. Dalam pasal 20 UU tahun 2003, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang berkualitas dengan ciri-ciri beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (UU no 20 tahun 2003).
Kini semakin disadari bahwa pendidikan memainkan peranan yang sangat penting didalam kehidupan dan kemajuan umat manusia. Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam kehidupan setiap individu, yang mempengaruhi perkembangan fisiknya, daya, jiwa, sosial dan moralitasnya, atau dengan perkataan lain, pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam mempengaruhi kemampuan, kepribadian dan kehidupan individu dalam pertemuan dan pergaulannya dengan sesama, serta hubungannya dengan Tuhan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan-kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Mutu pendidikan sangat erat hubungannya dengan mutu siswa, karena siswa merupakan titik pusat proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam meningkatkan mutu pendidikan harus diikuti dengan peningkatan mutu siswa. Peningkatan mutu siswa dapat dilihat pada tingginya tingkat prestasi belajar siswa, sedangkan tingginya tingkat prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh besarnya minat belajar siswa itu sendiri.
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum disusun untuk mendorong anak berkembang ke arah tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ini dicoba diwujudkan dalam kurikulum tiap tingkat dan jenis pendidikan, diuraikan dalam bidang studi dan akhirnya dalam tiap pelajaran yang diberikan oleh guru di dalam kelas.
Dalam mencapai tujuan pendidikan ini, pemerintah menggagas diberlakukannya kurikulum baru yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah. KTSP tersebut memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah.
Selain itu penggunaan metode pembelajaran yang mengajarkan siswa dalam pemecahan masalah, terutama pemecahan masalah dalam kehidupan sehari- hari masih kurang. Pengembangan metode pembelajaran tersebut sangat perlu dilakukan untuk menjawab kebutuhan keterampilan pemecahan permasalahan yang harus dimiliki oleh siswa. Metode pembelajaran problem based learning atau pemecahan masalah kegunaannya adalah untuk merangsang berfikir dalam situasi masalah yang komplek. Dalam hal ini akan menjawab permasalahan yang menganggap sekolah kurang bisa bermakna dalam kehidupan nyata di masyarakat.
Penggunaan metode dalam pembelajaran sangat diutamakan guna menimbulkan gairah belajar, motivasi belajar, merangsang siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Melalui metode problem based learning diharapkan dapat lebih mempermudah pemahaman materi pelajaran yang diberikan dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Kegiatan pembelajaran di SMAN 1 Bantul masih termasuk tradisional karena kebanyakan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi, sehingga siswa merasa bosan dalam megikuti proses pembelajaran. Hal itu diketahui dari hasil survei yang telah dilakukan. Dari hasil survei tersebut bahwa pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) kurang diminati oleh siswa. Dalam proses pembelajaran terlihat masih rendah perhatian siswa, siswa kurang berpartisipasi, sedangkan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi.
Diharapkan dengan menggunakan metode problem based learning dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) akan menarik minat siswa mengikuti kegiatan belajar sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa.
B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang terjadi di SMAN 1 Bantul sebagai berikut:
  1. Masih rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes).
  2. Masih rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes).
  3. Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) masih didominasi dengan metode ceramah.
C.      Batasan Masalah
Dalam penelitian ini permasalahan yang akan diteliti dibatasi pada masalah hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) dan belum digunakannya metode problem based learning.
D.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
  1. Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A dengan menggunakan metode problem based learning di SMAN 1 Bantul?
  2. Bagaimana peningkatan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball yang terjadi pada siswa kelas XI A setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode problem based learning?
E.       Tujuan Penelitian
1.         Untuk mengetahui hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball siswa kelas XI A SMAN 1 Bantul melalui penerapan Problem based learning.
2.         Mendapatkan bukti-bukti bahwa penerapan Problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes) pada permainan volley ball  siswa kelas XI A SMAN 1 Bantul.
F.       Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.  Manfaat Teoritis
         Bertambahnya khazanah keilmuan yang berkaitan dengan metode pembelajaran Problem based learning.
2.  Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
1)   Mampu menganalisa terjadinya permasalahan-permasalahan     pembelajaran dan mampu mengatasi permasalahan tersebut.
2)   Mampu menumbuhkan suasana pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan kemandirian siswa.
b. Bagi peneliti
Dapat menambah pengalaman peneliti untuk terjun ke bidang pendidikan.
c. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa meningkat.

Judul PTK Penjas Untuk SD, SMP, SMA, SMK

Judul PTK Penjas Untuk SD, SMP, SMA, SMK

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 
PENERAPAN PEMBELAJARAN PERMAINAN SOCCER LIKE GAMES UNTUK MENGEMBANGKAN PERILAKU SOSIAL SISWA
Model permainana olahraga untuk meningkatkan kemampuan motorik pada anak autis
PENDEKATAN TAKTIS DALAM PEMBELAJARAN PERMAINAN BOLAVOLI: Studi Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV di SD Negeri 
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH DASAR: Penelitian Tindakan Kelas di Sekolah Dasar 
PENERAPAN PENDEKATAN TAKTIS UNTUK MENINGKATKAN JUMLAH WAKTU AKTIF BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PERMAINAN SEPAKBOLA: Penelitian Tindakan 
Kelas Pada Siswa Kelas X di SMAN 1
PENERAPAN MODEL PEER TEACHING DALAM PEMBELAJARAN AKTIVITAS PERMAINAN BOLA TANGAN
PEMBELAJARAN GERAK DASAR MELEMPAR: Penelitian Tindakan Kelas di Sekolah Dasar 
PENERAPAN PERMAINAN HANDBALL LIKE GAMES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA RANAH PSIKOMOTORIK SISWA SMP: Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 
IMPLEMENTASI POLA GERAK DOMINAN TERHADAP KETERAMPILAN GULING DEPAN DAN GULING BELAKANG DALAM  PROSES BELAJAR MENGAJAR SENAM: Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa kelas X-A SMAN 
UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BOLA VOLI MELALUI AKTIVITAS VOLLEY BALL LIKE GAMES
IMPLEMENTASI PENDEKATAN POLA GERAK DOMINAN DALAM PEMBELAJARAN AKTIVITAS SENAM ARTISTIK: PTK di SMA Negeri 
UPAYA-UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENJAS: Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa SMAN 
MODIFIKASI PERALATAN PADA PROSES PEMBELAJARAN KETERAMPILAN THROW AND CATCH SOFTBALL DI SMAN 22BANDUNG : Penelitian Tindakan Kelas di SMAN 
PENERAPAN MODEL PENDEKATAN TAKTIS TERHADAP HASIL PEMBELAJARAN KETERAMPILAN DASAR DRIBBLING DALAM PERMAINAN FUTSAL DI SMK NEGERI XXX : PTK Pada Siswa Kelas X 
"UPAYA MENINGKATKAN KELINCAHAN DAN KERJASAMA MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL: 
Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas IV di SD"
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK SISWA MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PEMBELAJARAN PENJAS : Penelitian Tindakan Kelas di SDN
IMPLEMENTASI MODIFIKASI SARANA DAN PRASARANA TERHADAP PENINGKATAN HASIL PEMBELAJARAN PERMAINAN SEPAKBOLA PADA SISWA KELAS VIII SMPN XXX KABUPATEN XXX Penelitian Tindakan Kelas Di SMPN 1 
"UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN PASSING PENDEK DALAM PERMAINAN FUTSAL: 
Penelitian Tindakan Kelas Penerapan Aktivitas Soccer Like Games Di Sdn "
MODIFIKASI PEMBELAJARAN PERMAINAN BOLAVOLI UNTUK MENINGKATKAN WAKTU AKTIF BELAJAR (Penelitian Tindakan Kelas di SMP X)
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SENAM MELALUI PENDEKATAN DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR
"MODEL PENDEKATAN BERMAIN DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEBUGARAN JASMANI 
(Studi PTK pada siswa MA XXX)"
PENERAPAN PENDEKATAN TAKTIS DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KETERAMPILAN DASAR PASSING PADA PERMAINAN SEPAKBOLA (PTK PADA SISWA SMPN2 XXX)
UPAYA GURU PENDIDIKAN JASMANI DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN SENAM (Penelitian Tindakan Kelas di SMK Negeri XX)
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN DROPSHOT DALAM PEMBELAJARAN MELALUI MODIFIKASI NET YANG DIRENDAHKAN
UPAYA PENERAPAN PEMBELAJARAN PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP SIKAP FAIR PLAY SISWA: Penelitian Tindakan Kelas di SMP XXX)
"PENDEKATAN TAKTIS DALAM PEMBELAJARAN OLAHRAGA PERMAINAN HOKI 
(Penelitian Tindakan Kelas di SMA XX)"
PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SERVIS SISWA PADA PEMBELAJARAN BOLAVOLI : (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII SMP XXX)
PENERAPAN PENDEKATAN TAKTIS DALAM PEMBELAJARAN BOLA TANGAN
PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SERVIS SISWA PADA PEMBELAJARAN BOLAVOLI
"EFEKTIVITAS JUMLAH WAKTU AKTIF BELAJAR (JWAB) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI MELALUI SISTEM MANAJERIAL TUGAS GERAK DI SMK NEGERI 2 PURWAKARTA 
(Studi Tindakan Kelas XI Pada SMK XXX)"
IMPLEMENTASI PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI HUBUNGANNYA DENGAN PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI DAN PEMBENTUKAN PERILAKU SOSIAL SISWA SMP XXX
Implementasi Model Pendekatan Taktis Terhadap Hasil Pembelajaran BolaVolli di SDN 1 Pagundan Kabupaten Kuningan (Penelitian Tindakan Kelas di SDN XXX)
Implementasi teaching game for understanding dalam pembelajaran bola basket di SMAN XX
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF DALAM PEMBELAJARAN FUTSAL: Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SD 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM UPAYA MENINGKATKAN JUMLAH WAKTU AKTIF BELAJAR SISWA : Penelitian Tindakan Kelas di Sekolah Dasar Negeri 
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BOLAVOLI LIKE GAMES PENELITIAN TINDAKAN KELAS:Kelas V SD Negeri
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PENDEKATAN TAKTIS UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN BERMAIN BOLA VOLI PADA SISWA KELAS 6 SDN XXX

Sabtu, 08 Juli 2017

contoh-contoh PTK SD

contoh-contoh PTK SD 

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

PTK Kenaikan Pangkat Penjaskes SD BAB 5 dan Daftar Pustaka

PTK Kenaikan Pangkat Penjaskes SD BAB 5 dan Daftar Pustaka
 
Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data teknik dasar pasing atas bola voli mini siswa kelas IV SD Negeri .... Kecamatan .... Kabupaten .... Tahun Pelajaran 2015/2016 dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Pada pratindakan dari 26 siswa, terdapat 11 siswa (42%) yang tuntas belajar.
2. Pada akhir siklus I dari 26 siswa, terdapat 19 siswa (73%) yang tuntas belajar.
3. Pada akhir siklus II dari 26 siswa, 23 siswa (88%) telah tuntas belajar.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan metode bantuan tutor sebaya dapat meningkatkan teknik dasar pasing atas bola voli mini siswa kelas IV SD Negeri .... Kecamatan .... Kabupaten .... Tahun Pelajaran 2015/2016.
B. Implikasi
Penelitian ini memberikan suatu gambaran yang jelas melalui penerapan metode bantuan tutor sebaya dapat meningkatkan teknik dasar pasing atas bola voli mini siswa. Penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu pertimbangan bagi guru pendidikan jasmani dalam menggunakan metode bantuan tutor sebaya sebagai metode alternatif dalam penyampaian materi pembelajaran, khususnya pembelajaran teknik dasar pasing atas bola voli mini.
PTK Kenaikan Pangkat Penjaskes SD BAB 4 dan Daftar Pustaka Terbaru Kelas 4 Bola Voli
Dengan penerapan metode bantuan tutor sebaya untuk meningkatkan teknik dasar pasing atas bola voli mini, maka siswa memperoleh pengalaman baru dan berbeda dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Pembelajaran teknik dasar pasing atas yang pada awalnya susah dipahami oleh siswa dan kurang menarik bagi siswa, menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami siswa.
Pemberian tindakan dari siklus I dan II memberikan deskripsi bahwa terdapat kekurangan atau kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung, namun kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan siklus-siklus berikutnya. Dari pelaksanaan tindakan yang kemudian dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran dapat dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani baik proses maupun hasilnya dan peningkatan hasil belajar siswa.
Dari segi proses pembelajaran pendidikan jasmani, penerapan metode bantuan tutor sebaya dapat merangsang aspek motorik siswa. Dalam hal ini siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran pendidikan jasmani yang nantinya dapat bermanfaat untuk mengembangkan kebugaran jasmani, kerjasama, skill, dan sikap kompetitif yang kesemuanya ini sangat penting dalam pendidikan jasmani.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan beberapa hal, khususnya pada siswa kelas IV SD Negeri .... Kecamatan .... Kabupaten .... Tahun Pelajaran 2015/2016 yang dijadikan sebagai objek penelitian sebagai berikut:
1. Siswa sebaiknya lebih serius dalam mengikuti pembelajaran teknik dasar pasing atas bola voli mini melalui metode bantuan tutor sebaya agar hasil belajar lebih baik.
2. Guru pendidikan jasmani hendaknya menggunakan metode bantuan tutor sebaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Sekolah hendaknya berusaha menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung terlaksananya proses pembelajaran pendidikan jasmani.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi, Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Agus KristiRinoto. 2010. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Dalam Pendidikan Jasmani & Kepelatihan Olahraga. Surakarta: UNS Press.
Amirudin, Moh. Implementasi Metode Tutor Sebaya dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII A. Malang: MTS Al Ma’arif Singosari.
Arma Abdoellah. 1981. Olahraga Untuk Perguruan Tinggi.  Yogyakarta : Sastra Hudaya.
Badudu Zain. (1992). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Beutelstahl, Dieter. (2007). Belajar Bermain Bola Volley. Bandung: Piopir Jaya.
Dadang Heryana, Giri Verianti. (2010). Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk Siswa SD-MI Kelas IV. Jakarta: Aneka Ilmu.
Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004 Standar Kompetensi (Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Tingkat SD/MI. Jakarta: Depdiknas
Depdiknas. (2007). Naskah Akademik Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: BPP Pusat Kurikulum.
Djumindar, Mochamad. (2004). Gerakan-gerakan Dasar Atletik dalam Bermain. Jakarta: Grafindo Persada.
Gagne, RM., Briggs, L.J. (1979). Principles of Instructional Design. Holt. Rinehart and Winston.
Hamalik, Oemar. (2004). Media Pendidikan. Bandung: PT Aditya Bakti
Hilgard, Ernest R. (1948). Theories of Learning. East Norwalk, CT, US: Appleton-Century-Crofts.
Wikipedia Indonesia. (2009). Pengertian bola voli. Diperoleh 02 Juli 2014 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bola_voli/
Kosasih Engkos, Olahraga Teknik dan Program Latihan dan Akademik, Jakarta: Persindo.
PP.PBVSI. (1995). Jenis-jenis Permainan Bolavoli. Jakarta: PBVSI.
Purwanto, M. Ngalim, MP. (1997). Psikologis Pendidikan. Bandung: PT Rosda Karya.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.
Revans, Reg. (1998). Action Learning. New York: Hart Publishing Co.
Rukman, Kamil. (1990). Minivoli. Jakarta: PBVSI.
Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Bandung: Erlangga.Suherman. (2003). Pengembangan Pembelajaran.
Slameto. 1993. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Sudiarto. (1990). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Dirjend Dikti.
Suharsimi Arikunto. (1993). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sumantri M. Dan Syaodih, N (2006). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.

Contoh PTK Penjaskes BAB II

Contoh PTK Penjaskes BAB II 

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 
 A.    Kajian Teori

1.    Pengertian Belajar

Belajar adalah proses mencari jawaban dari yang tidak tahu menjadi tahu. Menurut Reg Revans (1998), belajar adalah proses menanyakan sesuatu yang berawal dari ketidaktahuan tentang apa yang dilakukan.

Pengertian belajar menurut Suharsimi Arikunto (1993:19) adalah suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan maksud memperoleh perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan, keterampilan, ataupun sikap.

Menurut Morgan (Purwanto, 1997: 84) bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu (1993:13).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dalam berbagai aspek kepribadian, (yang idealnya) perubahan tersebut merupakan perubahan positif, diperoleh karena yang bersangkutan menghendaki perubahan, dan perubahan itu dicapai melalui tahapan latihan dan atau pengalaman.

2.    Hasil Belajar
a.    Pengertian Hasil Belajar

Menurut Mulyono Abdurrahman (2003:37) “Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Dalam kegiatan pembelajaran tujuan yang ingin dicapai ditentukan sebelumnya. Anak yang dikatakan berhasil adalah mereka yang dapat mencapai tujuan-tujuan pelajaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Dimyati dan Mujiono (2006:3) memaparkan bahwa “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar”. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pengajaran dan kemampuan mental siswa. Setelah selesai mempelajari materi, diadakan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya, sebelum dilanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Sudjana (Padmono, 2002:37) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa atau mahasiswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan penguasaan berbagai macam keterampilan, pengetahuan setelah siswa memperoleh pengalaman belajar. Dalam kegiatan pembelajaran tujuan yang ingin dicapai ditentukan sebelumnya. Anak yang dikatakan berhasil adalah mereka yang dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya.

b.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar siswa.

1)    Faktor dari Dalam Diri Siswa

Lark dalam Rusna Ristasa, (2010:19) mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh siswa dan 30%  dipengaruhi oleh lingkungan. Berkaitan dengan faktor diri siswa yaitu motivasi, minat, sikap perhatian, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, dan kondisi fisik dan psikis.

2)    Faktor dari Luar Siswa

Salah satu faktor luar siswa yang dominan yang mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pengajaran. Yang dimaksud kualitas pengajaran adalah tinggi/rendahnya atau efektif/tidaknya proses pembelajaran dalam mencapai tujuan. Metode pembelajaran juga sangat berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar. Pemilihan metode yang tepat mutlak diperlukan agar pembelajaran menjadi menyenangkan dan berkesan bagi siswa yang akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

3.    Pengertian Bola Voli Mini
a.    Bola Voli

Bola voli menurut Wikipedia Indonesia (2014) adalah Olahraga permainan yang dimainkan oleh dua tim berlawanan yang masing-masing tim terdiri dari enam pemain.

Bola voli merupakan jenis permainan olahraga beregu yang masing-masing regu dimainkan oleh dua tim dimana tiap tim beranggotakan enam orang dalam suatu lapangan berukuran 30 kaki persegi (9 meter persegi) bagi setiap tim dipisahkan oleh net atau jaring (Viera, 2000: 2).

Permainan bola voli diciptakan oleh William G. Morgan pada tahun 1895. Dia adalah seorang pembina pendidikan jasmani pada organisasi "Young Man Christian Association" (YMCA) di kota Massachusetts, Amerika Serikat. Mula-mula permainan bola voli diberi nama "mintonette".

Kemudian permainan ini diubah menjadi volley ball. Pada tahun 1892 YMCA berhasil mengadakan kejuaraan nasional bola voli di negara Amerika Serikat. Pertandingan bola voli yang pertama tahun 1947 di Polandia. Pada tahun 1948 IVBF (International Volley Ball Federation) didirikan dengan beranggotakan 15 negara dan berpusat di Paris.

Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1928, yaitu pada zaman penjajahan Belanda. Pada tanggal 22 Januari 1945, PBVSI (Persatuan Bola voli Seluruh Indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama. Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II di Jakarta dan POM I di Yogyakarta (Dadan Heryana, 2010: 74).

b.    Bola Voli Mini

Permainan bola voli mini merupakan pembelajaran pendidikan jasmani yang diterapkan di sekolah dasar. Jumlah pemain yang dibutuhkan dalam satu regu 4 orang pemain dengan 2 orang cadangan dan pertandingan 2 set kemenangan (PP.PBVSI, 1995: 73).

Lapangan Bola voli mini berukuran panjang 12 meter, lebar 6 meter, tinggi net putra 2,10 meter, putri 2 meter, dan bola yang digunakan nomor 4 dengan berat 230-250 gram (Tim Bina Karya Guru, 2004: 18).

Menurut Rukmana (1990: 24) salah satu cara melatih bola voli mini bagi anak usia 9-13 tahun adalah sebagai berikut:

1)    Latihan Pengenalan Bola

Latihan pengenalan sangat penting dilakukan agar siswa terlebih dahulu mengenal bola voli.

Untuk menanamkan rasa cinta terhadap permainan bola voli mini terlebih dahulu diperkenalkan bermacam-macam latihan yang menyenangkan, sehingga anak-anak merasa senang dan menyukai, akhirnya mencintai bola voli mini. Misalnya, lempar tangkap bola dengan menggunakan bola plastik).

2)    Latihan Menuju Pembentukan Fisik Bola voli

Dalam permainan Bola voli mini kesiapan fisik yang prima sangat menunjang tercapainya prestasi yang optimal, tentu saja disesuaikan dengan usia serta perkembangan jiwa. Misalnya, siswa dilatih lompat zig-zag sambil melewati bola.

3)    Latihan Teknik Dasar Bola voli

Setelah siswa siap secara fisik dan mental, selanjutnya dilakukan latihan teknik dasar permainan bola voli.

Penerapan latihan teknik-teknik dasar bola voli mini dilakukan secara bertahap. Teknik-teknik dasar bola voli mini meliputi: servis, passing, receive, spike, dan block.


4.    Pengertian Passing Atas

Passing atas atau passing tangan atas adalah cara pengambilan bola atau mengoper dari atas kepala dengan jari-jari tangan. Bola yang datang dari atas diambil dengan jari-jari tangan di atas, agak di depan kepala (Aip Syarifuddin, 1997: 69).

Menurut M. MariRinoto,  Sunardi, dan Agus Margono (1994: 54) menyatakan, passing atas adalah suatu teknik memainkan bola yang dilakukan oleh seorang pemain bola voli dengan tujuan untuk mengarahkan bola yang dimainkannya ke suatu tempat atau kepada teman seregunya untuk dimainkan di lapangan sendiri.

Passing atas yang baik akan sangat mempengaruhi di dalam pertandingan, tetapi hal ini lebih menonjol dalam pertandingan tingkat tinggi dibandingkan pada pertandingan yang lebih rendah.
Menurut Engkos Kosasih, (1985: 109), dalam melakukan passing atas harus diperhatikan beberapa hal, yaitu:
  • a.    Konsentrasi untuk melakukan passing atas.
  • b.    Berlatih dan menyesuaikan diri untuk menguasai bola.
  • c.    Lihat dan pelajari di mana tempat menempatkan bola yang tepat.
  • d.    Ketahui posisi lemah regu lawan.
Passing atas adalah upaya menerima dan mengoper bola dengan kedua tangan dari atas depan kepala (Dadan Heryana, 2010: 74).

Untuk dapat melakukan passing atas dengan baik dan benar harus mengikuti latihan dengan serius. Cara melakukan latihan passing atas adalah sebagai berikut:

a.    Latihan Pertama
  • 1)    Berdiri tegak kedua kaki dibuka selebar bahu.
  • 2)    Kemudian lambungkan bola dan menangkap kembali.
  • 3)    Jari-jari tangan membentuk sikap passing atas.
  • 4)    Tahap pertama dilakukan di tempat.
  • 5)    Tahap kedua sambil berjalan.
  • 6)    Tahap ketiga diawali tepuk tangan sebelum menangkap bola.
  • 7)    Tahap keempat dilakukan sambil berjalan.
Gambar 2.1 Rangkaian latihan pertama
b.    Latihan Kedua
  • 1)    Berdiri tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu.
  • 2)    Lakukan passing atas yang dilambungkan teman (berpasangan).
  • 3)    Sambil berjalan, mundur dilanjutkan dengan gerak menyamping.
Gambar 2.2 Rangkaian Latihan Kedua
c.    Latihan Ketiga
  • 1)    Posisi awal sikap duduk.
  • 2)    Lakukan passing atas sambil duduk.
  • 3)    Bola terlebih dahulu diumpan oleh teman dari atas bangku.
  • 4)    Lanjutkan dari atas meja.
Gambar 2.3 Rangkaian Latihan Ketiga

d.    Latihan Keempat
1)    Berdiri tegak, saling berhadapan.
2)    Lakukan passing atas berpasangan dan berhadapan.
3)    Bola disentuh dua kali sentuhan.
4)    Lakukan latihan secara berulang-ulang.
5)    Latihan keempat ini juga dapat dilakukan lebih dari dua orang

Gambar 2.4 Rangkaian Latihan Keempat
e.    Latihan Kelima
1)    Berdiri tegak, saling berhadapan.
2)    Lakukan passing atas melalui net/tali yang dipasang melintang.
3)    Lakukan latihan secara berulang-ulang.

Gambar 2.5 Rangkaian Latihan Kelima
f.    Latihan Keenam
1)    Berkelompok bermain bola voli menggunakan lapangan kecil.
2)    Bermain menggunakan passing atas.
3)    Satu kelompok terdiri dari 3 sampai 4 orang pemain.